" Selamat Datang di Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI)... KCPI adalah Komunitas Penggemar Sejarah Perjuangan Bangsa dan Sahabat Para Pejuang Indonesia. "

Monumen Lengkong Saksi Sejarah Perjuangan Kemerdekaan

Monumen Lengkong

Serpong, Tangerang Selatan - Satu dari delapan rumah bersejarah peninggalan perjuangan para pahlawan saat merebut kemerdekaan Indonesia ada di Kota Tangerang Selatan. Bahkan, bangunan yang dikenal sebagai Monumen Lengkong dan kini dinamakan Taman Daan Mogot yang bernuansa arsitek rumah betawi ini masih asli seperti dulu.

Tak sulit bagi Anda bila ingin melihat secara langsung bangunan Monumen Lengkong di Serpong, Kota Tangerang Selatan. Hanya berjarak sekitar 100 meter tepat dari air mancur BSD, Anda masuk menuju arah Damai Indah Golf. Bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh tersebut dapat dijumpai di sisi bagian kiri jalan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, wilayah Serpong pernah menjadi bagian dalam sejarah perang memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada Jumat, 25 Januari 1946, beberapa perwira dari Resimen IV Tangerang dan para taruna ditugaskan untuk melakukan operasi POPDA (Panitija Oeroesan Pemoelangan Djepang dan APWI).

Mereka mendatangi markas tentara Jepang di Desa Lengkong Wetan untuk melucuti senjata secara damai dan mengatur kepulangan tentara tersebut.
Dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot, mereka melakukan upaya perundingan dengan pihak sekutu untuk memulangkan tentara Jepang dan APWI (Allied Prisioners of War and Internees).
Tiba-tiba tentara Jepang menyerang para taruna dan merebut kembali senjata mereka yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh taruna.

Dalam pertempuran di Lengkong Wetan itu, sebanyak 34 taruna dan tiga perwira, yakni Mayor Daan Mogot, Kapten Soebianto Djojohadikoesoemo, dan Letnan Soetopo gugur. Mereka gugur di usia muda. Para pahlawan itu kemudian dimakamkan secara massal di depan Monumen Lengkong yang ada sekarang ini. Pada 29 Januari 1946 atau empat hari setelah pertempuran itu, kuburan digali dan jasad para taruna serta perwira yang gugur dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang.

"Kami bukan pembangun candi. Kami hanya pengangkut batu. Kami angkatan yang mesti musnah, agar menjelma angkatan baru di atas pusara kami, lebih sempurna.”
Kutipan sajak itu ditemukan di saku Perwira Soebianto saat gugur di medan pertempuran. Sajak tersebut aslinya dalam bahasa Belanda karya Henriette Roland Holst, kemudian diterjemahkan oleh Rosihan Anwar. Mereka telah berjuang tanpa pamrih dan jasanya akan selalu dikenang sampai akhir hayat.

Setiap Tanggal 25 Januari, dilaksanakan upacara Peringatan Peristiwa Lengkong di monumen peninggalan sejarah tersebut. Pada tanggal 7 Januari 2005, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menetapkan Peristiwa Lengkong sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer. Hal itu dituangkan lewat Surat Telegram KSAD Nomo.

Sumber : www.tangerangselatankota.go.id

Penggemar KCPI